h1

Belajar dari Anak Kecil

Jam1000000amTue, 01 Jan 2008 03:14:51 +000008 1, 2008

“Kaki kecil melangkah menapak bumi yang indah

seakan tiada beban hidup di dunia

wajah polos yang cerah menyapa ramah sesama

angin lembut menerpa selembut hatinya

Oh indahnya hidup, seperti mereka

yang tiada dengki iri hati damainya….”

Benar apa yang dikatakan salah satu dosenku dalam kuliahnya pada modul kemarin, “Anak bukanlah miniatur orang dewasa”. Sehingga perlakuan kita pada anak kecil pun seharusnya menghargai keberadaan dia sebagai insan, yang mempunyai hak2nya. jangan kita perlakukan dia layaknya ‘orang dewasa dalam bentuk anak2’. Bagaimanapun mereka masih belajar ttg hidup ini. Mereka baru menghabiskan beberapa tahun hidup di dunia. Maka, jangan serta merta menyalahkan mereka akibat kesalahan yang mereka perbuat.

Bagi kita kebanyakan, untuk belajar dari anak kecil seakan sesuatu yang dianggap remeh. Jika kita berpendapat begitu, saya bisa katakan bahwa kita salah!! karena hari ini, Allah menyadarkan saya…bahwa anak kecil pun mempunyai suatu pemikiran yang dahsyat. Dalam kepolosannya, ternyata ia mampu menyelesaikan suatu masalah, tanpa intervensi kita sama sekali.

2 November 2006, pukul 21.00 WIB, di kediaman keluarga:

Ya, ampun!! berisik sekali malam ini. Padahal aku besok ada ujian. Sumbernya?Hmm…as usual, adikku yang sedang main dengan beberapa sepupu kecilku yang baru datang malam ini dari luar kota. Wajar sih jika mereka lalu bermain dengan riangnya, seakan melupakan semua keletihan dalam perjalanan pulang. Tapi berisiknya itu lho! Padahal aku sudah menutup pintu kamarku. Ternyata hal itu tak mempan sama sekali. Hffuhhh…aku pusing dibuatnya.

Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Diktat2 di atas meja belajar menunggu untuk kubaca. Tapi tetap, konsentrasiku masih tertuju akan kebisingan di luar kamarku. Berkali-kali pula aku mencoba menenangkan mereka.

“Duh, dah malam nih, kalo mau main besok aja y..”

“Eh,, gak boleh berisik dong malam2! Besok kan masih sekolah, ayo belajar”

“Tuh, kamu matanya dah ngantuk, tidur aja deh dek…”

“Hayoo, ingat kata mama kalo malam2 harus belajar lho! waktu mainnya dah habis..”

Bla…bla…bla…bla…

Tak mempan. Aku menghela napas di dalam kamar. Suaraku teredam oleh teriakan2 dan candaan mereka. Akhirnya aku pasrah dan mencoba membaca sisa diktat semampunya. Begitulah mereka kalau sudah bertemu sesamanya. Seakan lupa dengan dunia luar. Daripada menyakiti pita suaraku, lebih baik aku mulai belajar. Soal apakah hipokampus dalam otakku mampu menghasilkan memori ttg pelajaran malam ini?? Pasrahkan saja pada Penciptanya…

Tak lama kemudian, satu dari mereka mulai menangis. Tuh kan, pasti begini deh akhirnya. Aku ingin membuka pintu kemudian menasihati mereka. Namun, terlintas dalam benakku perkataan yang pernah dilontarkan oleh seseorang padaku, “Biarkan anak menyelesaikan permasalahannya sendiri. Dengan begitu, anak akan belajar bagaimana bernegosiasi, memikirkan solusi atas masalahnya, dan membentuk kemandirian mereka. Kita intervensi sejauh jika ia membutuhkan bantuan kita saja.” Hmmm, entah kenapa perkataan tersebut muncul tiba-tiba. Maka, aku memutuskan utk berdiam di kamarku. Mendengar apa yang akan terjadi kemudian….

Tangisan itu semakin keras. Tanganku gemas utk membuka pintu. Namun, terdengar mereka semua berupaya utk mendiamkan si kecil (rupanya yang nangis sepupuku yang paling kecil).

“Aduh, maaf ya ci…gak sengaja kepukul pake bantal”

(oh rupanya mereka sedang main perang bantal, sang pelaku, Dias, berupaya meminta maaf)

“Oci kuat kan..kuat dong! harus kuat ya!!”

(shabira, sepupuku yg juga masih kecil n cadel berupaya memberi semangat..he3x..lucu jg)

“Shabira,diemm…ntar dia nangis lagi!”

(adam, adikku..ternyata tak ingin timbul masalah baru, penanganan masalahnya lebih ke arah prognosis ke depan)

“Aduhh…aku tak tahu hidupku akan jadi begini, ada yang baik…ada juga yang buruk..”

(Hwe…kalimat seperti ini bisa muncul dari mulut anak kecil? Ckckck, sepupuku Nasya berbakat jadi filosof, walau dia masih 5 tahun…penguasaan kata2nya hebat!)

“Udah..sini aku bacakan cerita untukmu ya..”

(adam berkata lagi lalu mulai membacakan cerita. Karena ia belum mahir membaca, jadinya ia buat cerita versinya sendiri…imajinasinya bagus juga, ceritanya oke)

“Adam…bukan begitu ceritanya yang aku baca…ngarang nih”

(Dias, yg paling besar di antara mereka berpendapat)

“Iya nih ngarang…hahaha” (semua tertawa)

See? selesai sudah masalahnya. Tak ada tangisan lagi. Tinggal aku yang tersenyum simpul di balik pintu. Mengenang kembali pemecahan masalah yang telah mereka buat. Sederhana. Yang mereka butuhkan hanya rasa saling bertanggung jawab utk menyelesaikan masalah serta rasa kasih sayang antara mereka. Subhanallah…=)

Andaikan kita bersikap mampu setulus mereka

Yang tak kenal ketamakan

hanya cinta kebenaran

Andaikan kita melihat mampu sejujur mereka

Yang tak kenal perpecahan

hanya cinta kedamaian…..–gradasi, potret kedamaian–

:. utk Dias, Adam, Nasya, Shabira, Oci…dan semua adikku, moga Allah selalu memberkati langkah kalian dalam menapaki kehidupan ini…

-Ayu-

yang masih belajar utk jadi kakak yang baik…

3 November 2006,

http://muslimah_dr.blogs.friendster.com/muslimahdr/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: