h1

Breaking Bad News

Jpm3000000pmThu, 13 Mar 2008 19:11:46 +000008 1, 2008

Breaking bad news…istilah kerennya, memberitahukan berita buruk.

kepada siapa? tentunya kepada pasien dalam dunia kedokteran ini

Gampang? Susah? Simpel?

Whooo..siapa bilang gampang? Justru karena dilihat kebanyakan dokter umum kurang memperhatikan aspek satu ini, maka dibuatlah mata ajarannya…

Makanya, kemarin aku sempet bengong waktu ngeliat jadwal keterampilan klinik dasar di papan informasi,

Breaking bad news? baru tahu aku ada mata ajaran itu…Hoo, seems interesting to learn!

 Ternyata…Breaking bad news ini (selanjutnya disingkat BBN aja yah biar gampang) merupakan tugas yang tidak mudah. Hal tersebut tidak diajarkan pada pendidikan dokter umum maupun spesialis, jadi keterampilan diperoleh sebagian besar dengan melihat contoh.

Sekarang apa sih definisi bad news ini?

“Any news that drastically and negatively alters the patient’s view of his or her future”

Emang apa aja contohnya?

Ada yang disebut terminal illnes, penyakit stadium akhir/ terminal..biasanya ini karena kanker. Bisa juga berupa kegagalan operasi, memberitahu orang tua bahwa anaknya tidak dapat berkembang seperti anak lainnya, berbagai penyakit kronik, dsb.

Nah, memang kesalahan apa yang sering dilakukan oleh dokter?

Seringkali tidak melakukan BBN, karena sang dokter berharap hal tersebut dilakukan oleh orang lain, bisa juga dengan menghindari pasiennya. Lebih lanjut lagi, dokter sering menunda melakukan BBN dengan alasan perlu pemeriksaan lain. Tidak jujur, tidak menanggapi ucapan pasien, dan mengubah topik pembicaraan adalah hal-hal lain yang juga dilakukan oleh seorang dokter.

Akibatnya, dari pihak pasien sendiri akan timbul kehilangan perasaan aman, rasa penolakan, takut, sedih, menyesali diri, dan putus asa. Sebenarnya sang pasien sendiri sangat membutuhkan dukungan dokter (ingat efek plasebo?) dan tentunya ingin tahu prognosis yang jelas, seperti berapa lama lagi dia dapat hidup?

Jika dokter tidak memberikan penjelasan tentang semua itu, bukan tak mungkin sang pasien akan frustasi dan bisa jadi berobat ke dokter lain/luar negeri…

Emang apa susahnya sih??

Umumnya bagi dokter baru, BBN ini merupakan pekerjaan yang sulit. Pada beberapa kasus, melakukan BBN seolah-olah tidak dapat menangani pasien dengan baik. Sang dokter juga dapat menjadi sasaran kemarahan pasien/keluarga. Namun, seringkali yang berkecamuk dalam benak dokter adalah bagaimana memberikan suatu harapan yang realistis, bukan harapan yang sekedar harapan kosong.

Lalu, bagaimana dong caranya yang baik dan bijak?

Yang pasti, kita harus bersikap ekstra sensitif, yakni:

– mengedepankan sikap empati

– kontak pasangan, teman dekat pasien dengan ijin pasien

– duduk bersama, berikan dukungan dan jangan terburu-buru

– pastikan ada orang lain bersama pasien bila kita harus meninggalkan pasien

– gunakan istilah kedokteran secara hati-hati, klo perlu cek pengertian pasien tersebut

– tawarkan second opinion jika pasien/keluarga tampak ragu

Klo yang diajarin sewaktu KKD, ada nih yang namanya protokol SPIKES:

S-SETTING UP interview

dari lingkungannya, libatkan orang terdekat, duduk bersama dengan mata sejajar, buat hubungan erat dengan pasien

Hal penting lainnya, jangan sampe deh pertemuan tersebut terganggu dengan hal-hal kecil seperti dering hp, melihat jam, menguap, bahkan sms sekalipun…fokuskan perhatian hanya pada pasien.

P-Assessing the patient’s PERCEPTION

Sebelum memberitahu, tanya terlebih dahulu, “Apa yang Anda ketahui sejauh ini tentang kondisi anda?” hal ini berguna untuk mempersiapkan dokter akan kemungkinan respon yang diberikan pasien nanti.

I-Obtaining patient’s INVITATION

Sebagian besar pasien pasti ingin mendengar diagnosis serta harapan hidupnya kelak. Ada juga sebagia kecil pasien yang justru tidak ingin mendengar apapun tentang kondisinya (sudah tak peduli atau pasrah mungkin?) nah, dokter juga harus jeli nih dalam melihat hal ini…intinya, jangan memberitahu lebih dari yang ia inginkan.

K-Giving KNOWLEDGE and information to the patient

Pasien harus diberitahu diagnosis dan prognosis sejujurnya dalam bahasa yang sederhana dan cara yang halus. Terkadang, kita perlu juga memberikan semacam “warning shot” sebagai indikasi bahwa akan menyampaikan berita buruk.

Satu yang perlu diingat juga, jangan pernah menggunakan “medical jargon” atau bahasa medis yang gak pasien ngerti. Dan bila prognosis kurang baik, pasien harus diyakinkan bahwa akan selalu mendapat dukungan yang sebesar-besarnya.

 E-Adressing the patient’s EMOTIONS with emphatic responses

Amati emosi pasien dan cari tahu apa penyebab dari emosi pasien tersebut. Beri waktu juga kepada pasien untuk mengekspresikan perasaannya.

S-STRATEGY and SUMMARY

Sampaikan tindakan apa yang harus dilakukan oleh pasien serta sampaikan ringkasannya…

Hmm…keliatan simpel tapi susah lho untuk dipraktikkan!

Pada akhirnya, pasien harus mengetahui…

bahwa hidup mati itu bukan di tangan dokter……………..

semoga bermanfaat ^-^

————————————-

Anda percaya akan kuasa Allah?

Yang saya tahu sebagai dokter, kami akan berusaha yang terbaik untuk menyembuhkan Anda…dengan segenap daya upaya dan sarana yang kami miliki..

tapi di atas itu semua, kami tidak bisa menjanjikan seratus persen…

walaupun sembilan puluh sembilan persen yang kami janjikan, masih ada satu persen segala kemungkinan itu ada,

karena hidup dan mati,  sehat dan sakit…itu kuasa Allah

Dialah yang membuat hal yang mustahil menjadi mungkin, dan yang mungkin menjadi mustahil…

Dialah  Sumber Segala Kekuatan dan Kekuasaan

Apakah Anda percaya akan Kuasa Allah?

Maka, harapan itu akan tetap ada………..

Advertisements

5 comments

  1. Sulit juga kalo sudah berhubungan dengan manusia. Beberapa waktu yang lalu, pernah baca tentang derita dokter dan perawat yang menangani pasien gagal ginjal, ngeri. Bahkan ada yang sampai diludahin, dicacimaki, dsb. Wallaahu a’lam.

    Tetapi pasien memang seharusnya tahu tentang kondisi mereka dan diberi tahu kemungkinan-kemungkinan yang ada, baik kemungkinan dampak maupun kemungkinan pengobatan. Juga memang perlu diberi pengertian supaya tidak berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya orang-orang yang beriman tidak akan berputus asa dari rahmat Allah. Wallahu a’lam.

    Yang tidak kalah bermasalah, saat ini banyak dokter yang tidak tahu apa yang dilakukan. Contohnya saja, penggunaan antibiotik. Banyak penyakit yang seharusnya tidak perlu antibiotik, tetapi diberikan antibiotik. Apa ini tidak berbahaya?

    Semoga kualitas dokter-dokter yang ada di Indonesia semakin bertambah baik 🙂


  2. Efek plasebo ? Penyembuhan diri secara psikologis ? gak ingat yu. Ini aja baru tahu dari google 🙂

    Hmm… menarik yu. Memang jadi dokter itu itu butuh kemampuan komunikasi lebih. Jurusanku aja ada mata kuliah komunikasi interpersonal… karena semua profesi memang butuh apa yang namanya komunikasi.

    Masalah istilah… sepakat dech

    Hmm… semoga bisa jadi dokter yang baik dalam hal ini ya yu’ 😉


  3. ya terkadang manusia kerap menyalahkan perantara penyembuh penyakit yg bernama dokter..mereka lupa bahwa keputusan akhir di tanganNya…makasih loh atas infonya..ternyata being a doctor is not that easy.. 😉


  4. jadi breaking bad news tidak diajarkan kepada (calon) dokter umum dan dokter spesialis ya? wah, padahal penting sekali. untungnya di edith cowan university, dokter2 yang belajar palliative medicine diberi mata kuliah BBN.


  5. sewaktu awalnya saya mendapat berita seperti itu. Namun, sekarang sistem kuliah sudah berubah, sehingga BBN diajarkan kepada (calon) dokter umum bahkan sebelum memasuki jenjang kepaniteraan (klinik). Semoga dunia kedokteran Indonesia menjadi lebih maju di masa depan! amiin..



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: