h1

Love is Like…

Jam9000000amFri, 26 Sep 2008 00:44:41 +000008 1, 2008

Love is like waiting for a bus??

Cinta itu sama seperti orang yg sedang menunggu bis

Sebuah bis datang, dan kamu bilang,

“Wah..terlalu penuh, sumpek, bakalan nggak bisa duduk nyaman neh!

Aku tunggu bis berikutnya aja deh.”

Kemudian, bis berikutnya datang.

Kamu melihatnya dan berkata,

“Aduh bisnya kurang asik nih, nggak bagus lagi.. nggak mau ah..”

Bis selanjutnya datang, cool dan kamu berminat,

tapi seakan-akan dia tidak melihatmu dan lewat begitu saja.

Bis keempat berhenti di depan kamu.

Bis itu kosong, cukup bagus, tapi kamu bilang,

“Nggak ada AC nih, bisa kepanasan aku”.

Maka kamu membiarkan bis keempat itu pergi.

Waktu terus berlalu,

kamu mulai sadar bahwa kamu bisa terlambat pergi ke kantor.

Ketika bis kelima datang,

kamu sudah tak sabar,

kamu langsung melompat masuk ke dalamnya.

Setelah beberapa lama, kamu akhirnya sadar kalau kamu salah menaiki bis.

Bis tersebut jurusannya bukan yang kamu tuju!

Dan kau baru sadar telah menyiakan waktumu sekian lama.

Moral dari cerita ini :

sering kali seseorang menunggu orang yang benar-benar ‘ideal’  untuk menjadi pasangan hidupnya.

Padahal tidak ada orang yang 100% memenuhi keidealan kita.

Dan kamu pun sekali-kali tidak akan pernah bisa menjadi 100% sesuai  keinginan dia. Tidak ada salahnya memiliki ‘persyaratan’ untuk ‘calon’, tapi tidak ada salahnya juga memberi kesempatan kepada yang berhenti di depan kita.

Tentunya dengan jurusan yang sama seperti yang kita tuju. Apabila ternyata memang tidak cocok, apa boleh buat.  Tapi kamu masih bisa berteriak ‘Kiri’ ! dan keluar dengan sopan.

Maka memberi kesempatan pada yang berhenti di depanmu, semuanya bergantung pada keputusanmu.

Daripada kita harus jalan kaki sendiri menuju kantormu, dalam arti menjalani hidup ini tanpa kehadiran orang yang dikasihi.

Cerita ini juga berarti, kalau kebetulan kamu menemukan bis yang kosong, kamu sukai dan bisa kamu percayai, dan tentunya sejurusan dengan tujuanmu, kamu dapat berusaha sebisamu untuk menghentikan bis tersebut di depanmu, agar dia dapat memberi kesempatan kepadamu untuk masuk ke dalamnya.

Karena menemukan yang seperti itu adalah suatu berkah yang sangat berharga dan sangat berarti.

Bagimu sendiri, dan bagi dia.

Lalu bis seperti apa yang kamu tunggu? 🙂

 

dari: milist

Advertisements

10 comments

  1. Loading for sotoy mode…..
    ……………….

    Finish!

    Ehem…ehm…
    Keliatannya dari pengalaman pribadi nih.
    Gaya tulisannya langsung masuk 😀 .

    Saya sepakat dengan pendapat ente.
    Masih anget di otak, karena kejadiannya baru aja lewat di depan mata.


  2. “Masih anget di otak, karena kejadiannya baru aja lewat di depan mata”

    maksude sing opo gung? gak ngerti nih..
    (lemot mode: on)

    would you mind telling me the story?? if u don’t mind..:mrgreen: (dr psikiater mode: on)


  3. Hmm… cerita senada. Wah.. sekarang sich antara menunggu dan memilih bus. hehe…

    @agung
    ow.. yang hal itu ta gung ? *sok tau*


  4. @Ana
    Lho….

    Kok jadi “tentang agung”?? 🙄

    Sebenarnya saya tertarik dg latar belakang penulisan artikel ini. Insya Allah lain kali kita bertukar cerita. If u don’t mind :mrgreen: (sysmtem analiyst mode: on)

    @Agyl
    Iya, yang itu Gyl! (Opo maneh iki???! Ngajak perang ta? :mrgreen: )


  5. @Agung
    Lhooo…

    abis kalimatnya ambigu gitu..jadi, makna kalimat “Masih anget di otak, karena kejadiannya baru aja lewat di depan mata” apa tuh?
    Busnya agung? :mrgreen: hehehe…

    boleh kita bertukar cerita, kapan ya?? atau via email?? kapan aja deh…

    btw busway, ini bukan aku yg nulis..tapi aku suka analoginya, nyambung gitu..that’s it

    @Gyl
    menunggu dan memilih bus? Klo ngejar bus? :mrgreen: *bercanda kok*


  6. @agung
    Loh gung… kamu kan udah kubilangin : perang dunia ke-3 kan aku udah mundur. Tinggal kamu dan seseorang yang jadi penentunya.

    Aku udah ngibarin bendera putih gung. hehe… :mrgreen:

    @Ayu
    ngejar bus ? gak dech. Biarkan bus itu yang memilih untuk berhenti atau tidak. Hehe..

    O ya, kalo mau tanya ke agung tanya aja tentang perang dunia ke-3. Hahaha..


  7. @Gyl
    itu mah terminal bus, gyl..Hee

    hmm, boleh..boleh…mari kita tanya agung! (Hayoo loh gung!) :mrgreen:


  8. Hehehe… :mrgreen:
    iya ya. Itu sich terminal ya yu’. hehe..

    Hmm, gimana ya ? Ya mungkin sebenarnya bisa dilihat komen-komen ( punyaku ) diatas itu maknanya gak jelas 🙄

    Yang jelas , saat ini sedang “menunggu” 😛 tanpa embel-embel lain…


  9. Hahaha….sepakat Bu Dok, pengalaman tmn2q jg ky’ gitu (apalagi yg cewe, maafff…), semester awal mrk msh suka jual mahal tp ktk sadar udh semester akhir mulai dech….pada bingung, soalx msh pada sendiri,hehehe… (^_^)

    Tp klo nasib Q ky gerbong kereta api, yg belakang ngejar yg tengah, yang tengah ngejar lokomotif, jd dech g ada yg ketemu & jln bareng. Tp mendinglah posisiq ada d tengah, meski tetep aja g ada teman bwt jalan bareng, hicks….hicks…..

    Bwt, Q jg punya pndapat ttg qolbu ato hati, simak d blogq y…… (^_^)


  10. Kalo saya mau nyari bis jurusan Surabaya – Jogja..
    Turun di Terminal
    Terus ganti bis dalam kota jurusan stasiun tugu..
    Jalan sebentar (atau bisa naik becak) ke jl. C Simanjuntak..(atau jln TErban..)

    Nah klo dah ketemu yang dituju (dan keliatannya sudah ditunggu dari tadi,
    “Kita” kembali ke terminal..
    Naik bis lagi.. Tapi nggak pulang ke Surabaya.

    “Kita” melanjutkan perjalanan panjang ke tempat tujuan yang telah “Kita” sepakati..

    (Wduh.. nulis apaan sih..Di hapus aja yu comment-mya klo gak jelas.>!!)



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: